BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan, seorang anak melewati berbagai tahap
perkembangan yang harus dilaluinya. Tahapan tersebut dapat dibagi ke dalam
berbagai kelompok tergantung kepada para ahli yang menyatakan teoeri-teori
tersebut.
Diantara
teori pertumbuhan dan perkembangan dalam psikologi di antaranya adalah Teori
Perkembangan Arnold Gesell, Teori Tugas Perkembangan Robert Havighurst, Teori Kognitif Jean Peaget, Teori Perkembangan
Psikoseksual Sigmund Freud, Teori Perkembangan Psikososial.
B. Rumusan Masalah
Rumusan
masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana teori perkembangan menurut Arnold Gesell?
2. Bagaimana teori perkembangan menurut R. Havighurst?
3. Bagaimana teori perkembangan menurut Jean Peaget?
4. Bagaimana teori perkembangan menurut Psikososial?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Teori perkembangan menurut Arnold Gesell.
2. Teori perkembangan menurut R. Havighurst.
3. Teori perkembangan menurut Jean Peaget.
4. Teori perkembangan menurut Psikososial.
BAB
II
TEORI
PERKEMBANGAN
MENURUT
PARA AHLI
A. Teori Perkembangan Arnold Gesell
Menurut Gesel,
perkembangan merupakan suatu proses kematangan atau fisiologi. Selagi
kematangan fisiologi tidak dicapai, apa saja yang dilakukan seperti berjalan
tidak akan bisa tercapai.
Menurut teori kematangan
yang dibuat oleh Arnorld Gesell, beliau telah membagi kepada 5 tahap dalam
proses perkembangan kanak-kanak. Tahap pertama lahir sehingga 1 tahun iaitu 1
bulan menghasilkan tangisan berbeda-beda untuk menyatakan kehendak berlainan
seperti lapar dan popoknya basah, 4 bulan koordinasi fisik berlaku seperti mata
mengikut objek yang bergerak, 6 bulan tangan bayi mulai menggenggam objek, 7
bulan bayi mulai duduk dan merangkak dan 12 bulan bayi mampu berdiri dengan
berpegang pada alat.
Tahap kedua, 1 - 2 tahun
yaitu kemantangan fisik dan mental mulai meningkat, mulai memahami makna
‘jangan’ dan pada umur 2 tahun mampu untuk berjalan tetapi dengan bantuan.
Tahap ketiga, 2-3 tahun yaitu koordinasi mata, tangan dan kaki mulai terbentuk,
bisa bercakap menggunakan kata-kata mudah dan bisa mengurus diri seperti makan
dan memakai kasut. Tahap ini kanak-kanak sudah pandai untuk berimaginasi yaitu
membentuk sesuatu dengan menggunakan permainan yang berada di sampingnya atau
di sekitar kanak-kanak tersebut. Tahap keempat, 3-4 tahun yaitu koordinasi dan
kematangan fisik semakin kukuh dan bisa mengikuti perintah ibu dan bapak. Tahap
kelima, 4-5 tahun yaitu proses berinteraksi terbentuk, mula bersosialisasi,
mengemukakan soalan berperingkat-peringkat dan bersedia untuk ke kelas
prasekolah.
Pengawasan dari bapak ibu
sangat penting supaya tidak terjadi kecelakaan terhadap kanak-kanak. Antara
psikomotor yang terlibat ialah motor kasar dan motor halus.
B.
Teori
Tugas Perkembangan Robert Havighurst
Robert Havighurst
menyatakan bahwa perkembangan seseorang anak-anak dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Ini merupakan satu elemen penting yang berperan dalam pertumbuhan
dan perkembangan pada anak-anak. Beliau memfokuskan kepada keadaaan sekeliling
atau lingkungan di mana tempat seseorang anak-anak itu membesar yang akan memberi
dan meninggalkan sama ada positif atau negatif bergantung kepada ibu bapak yang
memberikan ciri mereka.
Havighurst menyatakan bahwa
tugas-tugas dalam perkembangan anak-anak hanya perlu dipelajari sekali saja
seperti berjalan, berlari, perbedaan nama benda dan sebagainya. Jadi ini dapat
disimpulkan bahwa setiap perkembangan yang dialami oleh anak-anak perlulah
dengan suka rela anak-anak itu sendiri, bukan dengan paksaan yang diberikan
oleh ibu bapak kerana dengan paksaan akan membuatkan kanak-kanak itu tidak
berupaya untuk mandiri sendiri dan akan memberi kesan yang dalam terhadap
perkembangan mereka.
Perkembangan ialah proses perubahan
kualitatif yang mengacu pada mata fungsi organ-organ jasmaniah. Penekanan arti
perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang
oleh organ-organ fisik, perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia
mengakhiri hayatnya. Sementara itu pertumbuhan hanya terjadi sampai manusia
mencapai kematangan fisik. Yang artinya, orang tak akan bertambah tinggi atau
besar jika batas pertumbuhan tubuhnya telah mencapai tingkat kematangan.
Selanjutnya, pembahasan mengenai
perkembangan ini difokuskan pada proses-proses perkembangan yang dipandang
memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan belajar peserta didik. Proses
perkambangan tersebut meliputi:
1. Perkembangan
motor (motor development), yakni proses perkembangan yang progresif dan
berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor
skills).
2. Perkembangan
kognitif (cognitive development), yakni
perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan atau
kecerdasan otak anak.
3. Perkembangan
sosial dan moral (social and moral development), yakni proses
perkambangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam
berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun sebagi
kelompok.
C.
Teori Kognitif Jean Peaget
Pakar psikologi Swiss
terkenal yaitu Jean Piaget (1896-1980), mengatakan bahwa anak dapat membangun
secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Piaget yakin bahwa anak-anak
menyesuaikan pemikiran mereka untuk menguasai gagasan-gagasan baru, karena
informasi tambahan akan menambah pemahaman mereka terhadap dunia. Dalam
pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia
individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat dunia kita
diterima oleh pikiran, kita melakukan pengorganisasian pengalaman-pengalaman
yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara
yaitu asimiliasi dan akomodasi.
Asimilasi terjadi ketika
individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah
ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri
dengan informasi baru. Seorang anak 7 tahun dihadapkan dengan palu dan paku
untuk memasang gambar di dinding. Ia mengetahui dari pengamatan bahwa palu
adalah obyek yang harus dipegang dan diayunkan untuk memukul paku. Dengan
mengenal kedua benda ini, ia menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran yang
sudah ada (asimilasi). Akan tetapi karena palu terlalu berat dan ia
mengayunkannya dengan keras maka paku tersebut bengkok, sehingga ia kemudian
mengatur tekanan pukulannya. Penyesuaian kemampuan untuk sedikit mengubah
konsep disebut akomodasi.Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan
melalui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan
usia dan terdiri dari cara berpikir yang berbeda. Berikut adalah penjelasan
lebih lanjut:
1. Tahap
sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir
hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini,
perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam kemampuan bayi
untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan
mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
2. Tahap
praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2
hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai
melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran
egosentrisme, animisme, dan intuitif. Egosentrisme adalah suatu ketidakmampuan
untuk membedakan antara perspektif seseorang dengan perspektif oranglain dengan
kata lain anak melihat sesuatu hanya dari sisi dirinya.
3. Tahap
operasional konkrit (concrete operational stage),
yang berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget.
Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran
intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik
atau konkrit.
4. Tahap
operasional formal (formal operational stage),
yang terlihat pada usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan
terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata,
pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.
Perlu diingat, bahwa pada
setiap tahap tidak bisa berpindah ke ketahap berikutnya bila tahap sebelumnya
belum selesai dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada
pada tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu
yang bersangkutan. Bisa saja seorang anak akan mengalami tahap praoperasional
lebih lama dari pada anak yang lainnya sehingga umur bukanlah patokan utama.
D.
Teori Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud
Teori
perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah
salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang
paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui
serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari identitas
menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau
libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.
Menurut Sigmund Freud,
kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan
berpengaruh besar dalam pembentukan
kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian
hari. Jika tahap-tahap
psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah
kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap
yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap
awal psikoseksual. Sampai konflik ini belum diselesaikan, individu
akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada
tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari
rangsangan oral melalui merokok, minum, atau makan.
1.
Fase
Oral
Pada tahap oral, sumber
utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks
mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi
berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti
mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang
bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa
kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Konflik utama pada tahap ini
adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para
pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan
memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat
mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
2.
Fase
Anal
Pada tahap anal, Freud
percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih
dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet –
anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan
kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Sigmund Freud,
keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan
pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk
menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu
anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif
selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang
kompeten, produktif dan kreatif.
Namun, tidak semua orang
tua memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini.
Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk
kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan
hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud
menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian dubur dapat berkembang di mana
individu memiliki, boros atau merusak kepribadian berantakan. Jika orang tua
terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian
kuat-analberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif.
3.
Fase
Phalic
Pada tahap phallic,
fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan
perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai
melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks
Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk
menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah
untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan.
4.
Fase
Latent
Periode laten adalah saat
eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain
seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting
dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.
Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif
stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak
membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak
selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi
sebagai suatu periode terpisah.
5.
Fase
Genital
Pada tahap akhir perkembangan
psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang
kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan
individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap
lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat
dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara
berbagai bidang kehidupan.
E.
Teori Perkembangan Psikososial
Teori Erik
Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan
psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori
kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya
bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen
penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan
ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita
kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu
berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam
berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi
sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan
mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.
Ericson
memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8
(delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya bahwa
tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat
berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan
dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika
tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika
tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan
perasaan tidak selaras.
Dalam setiap
tingkat, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang
merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik
ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk
mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi
meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan.
1. Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
-
Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan.
-
Tingkat pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi antara
kelahiran sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup.
-
Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman
dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional,
atau menolak, dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang di
asuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan
kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di tebak.
2. Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and
doubt)
-
Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun.
-
Tingkat ke dua dari teori perkembangan psikososial Erikson ini terjadi
selama masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari
pengendalian diri.
-
Seperti Freud, Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah
bagian yang penting sekali dalam proses ini. Tetapi, alasan Erikson cukup
berbeda dari Freud. Erikson percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh
seseorang akan membawa kepada perasaan mengendalikan dan kemandirian.
-
Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih
yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian.
-
Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri,
sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap
diri sendiri.
3. Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)
-
Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.
-
Selama masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan
dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena menghadapi dunia sosial yang lebih luas,
maka dituntut perilaku aktif dan bertujuan.
-
Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah,
perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Perasaan
bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul apabila anak tidak diberi
kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.
-
Erikson yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat
oleh rasa berhasil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Teori
perkembangan dapat dibagi ke dalam beberapa bagian tergantung kepada para ahli
yang mengutarakannya.
2. Menurut Gesel,
perkembangan merupakan suatu proses kematangan atau fisiologi. Selagi
kematangan fisiologi tidak dicapai, apa saja yang dilakukan seperti berjalan
tidak akan bisa tercapai.
3. Robert Havighurst
menyatakan bahwa perkembangan seseorang anak-anak dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Ini merupakan satu elemen penting yang berperan dalam pertumbuhan
dan perkembangan pada anak-anak. Beliau memfokuskan kepada keadaaan sekeliling
atau lingkungan.
4. Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah
salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang
paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui
serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id
menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu.
5. Teori Erik
Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan
psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori
kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya
bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen
penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan
ego.
B. Saran
Semoga dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman tentang
teori-teori pertumbuhan dan perkembangan menurut para ahli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar